PURBALINGGA warta onenews Di bawah naungan dingin lereng Gunung Slamet, riak air jernih Desa Limbangan, Kutasari, tak sekadar menjadi pemuas dahaga. Pada Sabtu (25/7/2026), aliran mata air di kawasan Bio Asri tersebut menegaskan posisinya sebagai simbol kemandirian ekonomi sekaligus ujian komitmen terhadap kelestarian alam.
Kunjungan Ketua Umum DPP Gibran Center, Marsudiyanto, ke sentra pengelolaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berbasis kemasyarakatan ini menjadi momentum untuk menakar ulang garis tipis antara eksploitasi ekonomi dan konservasi. Disambut langsung oleh Ketua DPD Gibran Center Purbalingga, Slamet al Arifin, peninjauan ini menyoroti bagaimana potensi lokal seharusnya dikelola.
Marsudiyanto menegaskan bahwa hilirisasi potensi air lokal memiliki daya tawar ekonomi yang kuat. Namun, ia memberi catatan tebal: keberlanjutan tak boleh dikorbankan demi mengejar angka produksi.
"Industri air kemasan punya prospek cerah, tetapi sifatnya sangat bergantung pada napas alam. Sekali lingkungan sekitar hulu rusak, debit air akan merosot dan investasi sosial ini akan runtuh. Tugas kita adalah menjamin kemudahan izin dan akses modal bagi warga, seraya memastikan mata air ini tetap abadi," tegas Marsudiyanto.
Menjaga Warisan Lereng Slamet
Purbalingga dibekahi posisi geografis yang istimewa. Berada di bentang alam Gunung Slamet, tanahnya yang subur dan cadangan air bersihnya yang melimpah di bagian hulu adalah modal dasar yang tak terhingga.
Slamet al Arifin menuturkan, keberadaan unit usaha seperti Bio Asri harus menjadi cetak biru (blueprint) pemberdayaan warga. Bagi Purbalingga, kekayaan melimpah dari sektor pertanian, mineral, hingga ekowisata tidak boleh hanya berakhir sebagai penonton di tanah sendiri.
"Kami berdiri di atas tanah yang kaya. Air mengalir dari hulu Gunung Slamet adalah berkah yang harus dikelola secara bijaksana. Bio Asri bukan sekadar proyek bisnis, melainkan simpul yang merekatkan pertumbuhan ekonomi lokal, pembukaan lapangan kerja, dan tanggung jawab ekologis," ujar Slamet.
Melalui pendekatan yang seimbang antara kemudahan usaha dan perlindungan hulu, penguatan ekonomi berbasis sumber daya air di Purbalingga diharapkan mampu menjadi pembuktian: bahwa kesejahteraan warga dan kelestarian alam bisa berjalan bersisian tanpa saling meniadakan.
Pewarta Wawan Guritno




Social Footer