KUTA, BALI -WartaONENEWS getaran yang tak biasa ketika angin sore kawasan Kuta menyisip di antara pilar-pilar sebuah kediaman yang sarat akan aroma spiritual. Di sana, di bawah langit Bali yang magis, dua perwakilan penjaga tradisi Nusantara duduk bersila. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan sebuah ruang rindu tempat bertemunya kembali dua aliran darah kebudayaan yang besar: Sunda dan Bali.
Ketua Umum Satria Kencana Nusantara, R. Abd. Latif, melangkah membawa misi merajut kembali rajutan tenun kebudayaan bangsa yang mulai renggang oleh zaman. Ia disambut hangat, nyaris tanpa sekat, oleh tokoh masyarakat sekaligus budayawan terkemuka Bali, YM. Morgan Made Soeartha (Kanjeng Prabhu Wiranegara)
Meniti Jembatan Sejarah yang Sempat Terjeda
Sore itu, obrolan mengalir begitu cair, laksana air yang mencari muaranya. Keduanya larut dalam kajian budaya yang mendalam, menelusuri kembali rekam jejak, asal-usul, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Dari petikan perbincangan tersebut, terkuak sebuah kesadaran bahwa Sunda dan Bali tidak pernah benar-benar terpisah. Ada benang merah filosofis tentang penghormatan terhadap alam, tata nilai kehidupan, dan semangat persaudaraan kuno yang selama berabad-abad mengikat kedua tanah ini dalam harmoni yang sunyi.
"Pertemuan seperti ini adalah sarana krusial untuk membuka kembali kitab sejarah yang berdebu. Satria Kencana Nusantara berkomitmen penuh untuk merajut kembali ikatan kebudayaan di seluruh penjuru Nusantara agar generasi penerus tidak kehilangan kompas jiwanya," ujar R. Abd. Latif dengan nada takzim.
Simbolisme Tongkat Marlin: Amanah yang Berusia Puluhan Tahun
Momen paling menyentuh dan sarat magis e terjadi di tengah jalannya silaturahmi. YM. Morgan Made Soeartha beranjak, lalu dengan kedua tangannya yang penuh rasa hormat, menyerahkan sebuah cindera mata yang bukan sembarang benda.
Sebuah tongkat komando yang terbuat dari tulang ikan Marlin.
Tongkat itu bukan sekadar hiasan. Kilau alaminya menyimpan jejak waktu yang telah berusia puluhan tahun, menyimpan saksi bisu dari ombak samudra dan kearifan lokal Bali. Menyerahkan tongkat ini kepada R. Abd. Latif adalah simbol penyerahan estafet kepercayaan, sebuah restu dari tanah Bali untuk perjuangan Satria Kencana Nusantara.
R. Abd. Latif menerima amanah sejarah tersebut dengan membungkuk hormat, menyiratkan penghargaan yang teramat tinggi atas ketulusan sang budayawan Bali.
Pondasi Kokoh untuk Masa Depan Nusantara
YM. Morgan Made Soeartha mengangguk takzim melihat sambutan hangat tersebut. Beliau menegaskan bahwa persatuan bangsa yang kokoh tidak akan pernah tercipta dari atas kertas politik, melainkan dari rasa saling mengenal dan menghargai kekayaan budaya masing-masing daerah.
Sebelum senja benar-benar pamit di ufuk Kuta, sebuah kesepakatan agung telah mengkristal. Kedua pihak berjanji tidak akan membiarkan pertemuan ini menguap begitu saja. Ke depan, sebuah agenda besar berupa kajian bersama dan kolaborasi pelestarian budaya Sunda-Bali akan segera direalisasikan.
Dari Kuta, sebuah pesan bergaung lirih namun kuat: Nusantara tidak akan pernah kehilangan jati dirinya, selama para penjaga gerbang budayanya masih saling menggenggam tangan.





Social Footer