PURBALINGGA warta oneNews-Udara sejuk Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, menjadi saksi bisu lahirnya deretan kader baru pelindung ulama dan benteng NKRI. Sebanyak 42 peserta terpilih baru saja menuntaskan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser), sebuah kawah candradimuka yang menguji ketahanan fisik sekaligus keteguhan hati selama 3 hari ( 24-26-April 2026)
Menariknya, semangat pengabdian ini menembus batas wilayah. Dari puluhan wajah yang membasuh peluh di medan latihan, dua di antaranya merupakan putra daerah asal Banjarnegara yang sengaja datang melintasi batas kabupaten demi dedikasi yang sama.
Bukan Sekadar Seragam
Diklatsar Banser bukanlah prosesi seremonial belaka. Selama kegiatan berlangsung, para peserta digembleng dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari ke-Nu-an, wawasan kebangsaan, hingga teknik pengamanan lapangan yang menguras energi.
Getaran emosional sangat terasa saat memasuki sesi refleksi. Salah satu peserta dari Regu 4 (Team Ramane) mengungkapkan sisi humanis di balik baret dan seragam doreng yang kini ia kenakan. Dengan napas yang masih memburu namun sorot mata bangga, ia mengakui bahwa jalan menjadi seorang Banser adalah jalan sunyi yang penuh pengorbanan.
"Menjadi Banser itu ternyata tidak mudah. Di sini kami belajar bahwa pengabdian bukan soal gagah-gagahan seragam, tapi soal mentalitas dan keikhlasan yang harus ditempa dengan keras," ungkapnya dengan nada bergetar.
Apresiasi untuk Para Pelatih
Bagi Team Ramane dan peserta lainnya, keberhasilan mereka melewati masa-masa sulit di Karangjengkol tak lepas dari bimbingan tangan dingin para instruktur. Rasa lelah yang mendera seolah terbayar lunas dengan ilmu dan persaudaraan yang terbentuk selama pelatihan.
"Kami menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para pelatih dan seluruh jajaran Banser Purbalingga. Tanpa bimbingan, kesabaran, dan arahan mereka, mustahil kami bisa berdiri tegak sampai titik ini," tambah perwakilan Regu 4 tersebut.
Kini, 42 personel baru ini telah resmi dinyatakan lulus. Mereka kembali ke masyarakat bukan hanya membawa baret kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar untuk menjaga harmoni, mengawal kiai, dan memastikan semangat toleransi tetap membumi di tanah pertiwi.
Oleh: Wawan Guritno
( Team Ramane)





Social Footer