Breaking News

Cahaya Silaturahmi di Bulukuning: Merajut Kembali Fitrah dalam Kehangatan Halal Bihalal



BANJARNEGARA -warta.onenews Di bawah naungan langit malam Desa Kaliajir yang tenang, gema selawat dari grup Hadroh Mahabbaturrossul membubung tinggi, mengawali sebuah pertemuan penuh khidmat. Sabtu malam (11/4), Dusun Bulukuning bersolek dalam kesahajaan untuk merayakan sebuah tradisi yang melampaui sekadar seremoni: Halal Bihalal Muslimat se-Dusun Bulukuning.


Kediaman Bapak Zaenal Arifin di RT 08 RW IV bertransformasi menjadi ruang rindu. Ratusan ibu-ibu Muslimat hadir dengan busana putih yang melambangkan kesucian, menciptakan pemandangan yang menyejukkan mata-seperti hamparan melati di tengah temaram lampu desa.


Melampaui Kata Maaf

Acara yang dipandu oleh Ust. Wahyudianto selaku Ketua Penyelenggara ini bukan sekadar ajang jabat tangan. Dalam laporannya, ia menekankan bahwa pertemuan ini adalah "titik balik" untuk memperkuat akar persaudaraan antarwarga setelah sebulan penuh menempa diri di bulan suci.



Puncak kekhusyukan terasa saat KH. Imam Ghozali, ulama kharismatik dari Gunungalang-Banjarnegara, menyampaikan tausiyahnya. Dengan gaya tutur yang lembut namun sarat makna, beliau mengingatkan bahwa Idul Fitri 1447 H ini harus menjadi momentum untuk "memanusiakan manusia."


"Halal bihalal adalah seni menyambung yang putus, menghaluskan yang kasar, dan membasuh debu-debu di hati," ujar KH. Imam Ghozali di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.


Harmoni dalam Kebersamaan

Estetika acara ini semakin kental dengan selingan irama rebana yang dinamis namun teratur, mencerminkan harmoni kehidupan sosial di Dusun Bulukuning. Tidak ada sekat antara tua dan muda; semua lebur dalam satu doa yang sama untuk keberkahan desa.



Hingga larut malam, suasana tetap hangat. Wangi penganan lokal dan teh hangat melengkapi obrolan-obrolan kecil di sudut teras. Bagi warga Bulukuning, malam ini bukan hanya tentang merayakan kemenangan Idul Fitri, melainkan tentang menjaga api kekeluargaan agar tetap menyala di tengah arus zaman yang kian cepat.


Pertemuan singkat ini berakhir dengan jabat tangan panjang-sebuah simbol bahwa di Dusun Bulukuning, maaf bukan hanya di lisan, tapi menetap di dalam hati.

Pewarta Wawan Guritno 

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close