BANJARNEGARA, warta.onenews.co.id– Sebanyak 30 siswa sekolah menengah pertama (SMP) dari sejumlah sekolah di Kabupaten Banjarnegara mengikuti kegiatan Field Trip Geopark Nasional Dieng, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan edukatif yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarnegara ini bertujuan mengenalkan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta warisan budaya kawasan Dieng kepada generasi muda.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi lingkungan dan meningkatkan kepedulian pelajar terhadap pelestarian kawasan Geopark Nasional Dieng. Melalui pembelajaran langsung di lapangan, para siswa tidak hanya mengenal fenomena alam dan peninggalan sejarah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberlanjutan warisan alam dan budaya untuk generasi mendatang.
Kegiatan ini sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam memperkenalkan potensi Geopark Dieng melalui pemanfaatan media digital secara positif dan edukatif.
Jelajahi Kawah Sikidang hingga Kompleks Candi Arjuna
Dalam perjalanan tersebut, para peserta mengunjungi sejumlah situs unggulan di kawasan Dieng, di antaranya Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, Telaga Dringo, dan Kompleks Candi Arjuna.
Setiap lokasi memberikan pengalaman pembelajaran berbeda. Para siswa diperkenalkan pada bentang alam vulkanik, karakteristik kawasan panas bumi, ekosistem dataran tinggi, hingga nilai sejarah dan budaya yang melekat pada situs-situs tersebut.
Tidak hanya mempelajari kondisi geologi, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati khas Dieng, termasuk carica, purwaceng, dan domba Batur. Ketiganya menjadi bagian dari kekayaan hayati dan potensi lokal yang memiliki nilai penting bagi identitas kawasan dataran tinggi Dieng.
Sepanjang perjalanan, pemandu geowisata memberikan penjelasan mengenai proses terbentuknya bentang alam vulkanik, dinamika panas bumi atau geothermal, serta keunikan ekosistem setempat.
Pembelajaran secara langsung di lokasi diharapkan membantu siswa menghubungkan materi yang diperoleh di sekolah dengan fenomena alam yang dapat diamati. Dengan demikian, kunjungan ini tidak sekadar menjadi perjalanan wisata, melainkan juga sarana pembelajaran geologi, lingkungan, biodiversitas, dan kebudayaan.
Bapperida Banjarnegara Perkuat Pilar Edukasi Geopark
Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Banjarnegara, Resiati Widiastuti, menjelaskan bahwa kegiatan field trip tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan pengembangan Geopark Nasional Dieng, khususnya pada pilar edukasi.
Menurut Resiati, pengembangan geopark mencakup tiga pilar utama. Melalui kegiatan ini, pengelola berupaya memperkuat aspek pendidikan dengan mengajak pelajar mengenal langsung situs-situs yang memiliki nilai kebumian, keanekaragaman hayati, dan budaya.
“Sebagai Badan Pengelola, tentu kami berkewajiban untuk melaksanakan pengembangan terkait dengan Geopark. Ada tiga pilar terkait dengan pengembangan Geopark dan kita mengambil salah satu pilarnya, yakni pilar edukasi. Sehingga memang hari ini kita mengadakan field trip atau perjalanan mengunjungi situs-situs yang ada di Geopark, baik dari biosite, cultural site, maupun diversity site,” jelas Resiati.
Ia menambahkan, pelajar tingkat SMP dipilih karena dinilai telah memiliki kemampuan literasi digital yang cukup baik. Potensi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi mengenai kekayaan Geopark Dieng secara kreatif, informatif, dan bertanggung jawab.
Setelah menerima penjelasan di setiap lokasi, para siswa diberi kesempatan mengambil video untuk dijadikan bahan konten yang akan dipublikasikan melalui media sosial sekolah masing-masing.
“Harapannya, siswa-siswi bisa ikut menyosialisasikan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini, dan cara yang paling efektif adalah lewat konten sosial media. Semoga ke depan semua sekolah bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” tambahnya.
Melalui pendekatan tersebut, edukasi geopark diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan lapangan berakhir. Informasi yang disampaikan kembali oleh para siswa dapat menjangkau teman sebaya dan masyarakat yang lebih luas.
Geopark Nasional Dieng Memiliki 23 Geosite
Sementara itu, General Manager Geopark Nasional Dieng, Sri Utami, menyampaikan bahwa kawasan Geopark Nasional Dieng mencakup dua wilayah kabupaten di Jawa Tengah, yakni Banjarnegara dan Wonosobo.
Menurut data yang disampaikan Sri Utami, kawasan tersebut memiliki total 23 geosite, dengan rincian 13 lokasi berada di Kabupaten Banjarnegara dan 10 lokasi di Kabupaten Wonosobo.
Sebagian situs telah dikembangkan sebagai daya tarik wisata, sedangkan lokasi lainnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan edukasi dan pembelajaran mengenai potensi kebumian serta lingkungan.
Sri Utami menjelaskan, sejak ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada Maret 2025, salah satu fokus pengelolaan pada 2026 adalah memperluas penyebaran informasi kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui program Geopark Goes to School, kegiatan kunjungan lapangan, serta partisipasi dalam jejaring Geopark Indonesia.
“Sejak Dieng ditetapkan jadi Geopark Nasional pada Maret 2025, fokus Badan Pengelola pada tahun ini adalah bagaimana Geopark ini terinformasikan ke publik, salah satunya melalui program Geopark Goes to School dan kegiatan field trip seperti hari ini. Selain itu, kami juga aktif dalam jejaring Geopark Indonesia dan masuk dalam kepengurusan Geopark National Team,” ungkap Sri Utami.
Perluasan informasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai fungsi geopark. Kawasan ini tidak hanya memiliki daya tarik wisata, tetapi juga menyimpan potensi pembelajaran, penelitian, konservasi, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Pelestarian Alam dan Budaya untuk Generasi Mendatang
Lebih lanjut, Sri Utami menekankan pentingnya menjaga warisan kebumian dan budaya agar dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang. Menurutnya, pemanfaatan kawasan geopark perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan upaya konservasi.
“Apa yang ada itu tidak hanya kita nikmati hari ini, tetapi bagaimana warisan ini bisa dinikmati sampai dengan anak cucu kita. Melalui langkah inilah harapannya ada upaya konservasi dan edukasi, sehingga di situ bisa kita gunakan sebagai penelitian dari sisi geologi maupun keilmuan lainnya dan pada saatnya berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberadaan geopark memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan lingkungan, pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, serta peluang ekonomi masyarakat.
Dalam konteks pariwisata, pemahaman terhadap nilai penting setiap situs juga dapat mendorong pengunjung untuk lebih menghargai kawasan yang didatangi. Kesadaran menjaga kebersihan, mengikuti arahan petugas, serta tidak merusak lingkungan menjadi bagian penting dari perilaku wisata yang bertanggung jawab.
Keterlibatan pelajar sejak dini diharapkan dapat membangun kebiasaan positif tersebut sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kekayaan alam dan budaya daerah.
Siswa Rasakan Manfaat Belajar Langsung di Lapangan
Kegiatan Field Trip Geopark Nasional Dieng mendapat tanggapan positif dari peserta. Salah satu perwakilan siswa SMP Negeri 1 Karangkobar, Brilliant Fatimatuzzahra, mengaku senang dapat mengikuti pembelajaran langsung di sejumlah situs kebumian Dieng.
Menurut Brilliant, pengalaman belajar di lapangan terasa lebih menarik karena siswa dapat melihat secara langsung objek yang sebelumnya hanya dipelajari melalui materi pembelajaran.
“Belajar langsung di lapangan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan. Kami jadi tahu bagaimana kawah terbentuk dan mengapa lingkungan Dieng harus terus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan siswa sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Dengan menggabungkan pembelajaran lapangan, pengenalan potensi lokal, dan pemanfaatan media digital, kegiatan ini menjadi salah satu upaya mengenalkan Geopark Nasional Dieng kepada generasi muda.
Ke depan, keterlibatan lebih banyak sekolah diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi geopark di Banjarnegara dan Wonosobo. Dengan begitu, potensi geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya Dieng tidak hanya dikenal sebagai daya tarik wisata, tetapi juga dipahami sebagai aset pengetahuan dan lingkungan yang perlu dijaga secara berkelanjutan.(Daryoko (



Social Footer